Showing posts with label It's All About ALIF. Show all posts
Showing posts with label It's All About ALIF. Show all posts

Thursday, August 14, 2014

Aku Mau Pulang, Ibu...

Matanya memerah. Air matanya berlinang. Suaranya parau memohon kepadaku untuk diijinkan pulang...

Ini bulan ke-2 Alif menjalani pendidikan di pesantren. Belum terlalu lama. Apalagi dipotong hampir 3 minggu libur Lebaran kemarin. Masih terhitung masa penyesuaian diri. Kami orang tua masih diperbolehkan berkunjung kapan saja menjenguk para santri. Masih melalui proses yang berat, buat si anak, juga buat ayah ibunya.

Membesarkan anak sekarang ini memang penuh dengan tantangan baru, yang tentu saja berbeda bila dibandingkan saat aku masih seumur dia sekarang, 12,5 tahun. Teknologi yang menguasai kehidupan saat ini sangat mempengaruhi perilaku anak. Ah... jangankan anak, harus kuakui, aku pun sering terlena dengan segala macam gadget ini. Hehe. Sulit menghindarkan diri dari "mainan" teknologi ini. "Memang ini sudah zamannya.", kata suamiku.

Alif, seperti anak lelaki seusianya, sepertinya mulai kecanduan bermain games di komputer. Malah belakangan mulai mengenali game online. Sesuatu yang sangat aku kuatirkan. Memang sih, kami sengaja menyediakan perlengkapan komputer dengan jaringan internet di rumah. Alasannya agar bisa diawasi. Karena kalaupun tidak disediakan di rumah, pasti akhirnya dia akan berusaha mencari di luar rumah. Warnet misalnya. Seperti yang terjadi dilingkungan sekelilingku. Semakin mengkhawatirkan :(

Games zaman sekarang juga mulai banyak yang menjurus ke arah sexualitas. Berdasarkan apa yang aku baca, gambar2 wanita seksi muncul begitu saja tanpa diminta di sela-sela permainan. Itu juga yang pernah aku pergoki di layar permainannya. Alif sudah akil baliq, setelah dia disunat 2 tahun yang lalu. Pasti dia sudah tertarik bila melihat hal2 sedemikian. Memang sudah kodratnya. Tetapi... jiwanya belum siap untuk itu. :( . Ini murni kekuatiran seorang ibu.

Pulang sekolah, yang dicari langsung komputernya. Apalagi saat libur, week-end, dari melek pagi hari sampai malam pun sanggup dia duduk di depan komputer. Saat diingatkan untuk makan ataupun sholat, sering menjawab dengan perkataan kasar dan berintonasi keras. Iya, dia merasa terganggu saat sedang konsentrasi menyelesaikan permainannya. Duh, kadang aku terkejut mendengar dan melihat reaksinya. Apalagi dikuti dengan suaranya yang mulai berat. Anakku yang dulu kecil sekarang sudah besar. Rasanya terlalu cepat dia besar... Rasanya pula, kami mulai tak berdaya melawan kemauannya yang satu ini. Hhhhh....

Selalu berada di dalam rumah, tidak menyukai aktifitas luar ruang juga mulai mengkuatirkan kami. Menolak bergaul dengan teman sekelilingnya pun membuatku merasa heran dengan perkembangannya ini. Takut dia menjadi orang yang tidak bisa bersosialisasi.

Inilah sebagian alasan mengapa kami memutuskan untuk memasukannya ke pesantren. Bukan... bukan karena perilakunya dapat digolongkan ke anak "nakal". Bukan. Alif masih berperilaku wajar. Kami cuma berharap Alif berubah perilakunya ke arah yang lebih baik.

Permulaannya pasti berat. Si anak tunggal yang biasa dimanja di rumah, sendirian, tak biasa berbagi, tiba2 harus sekamar dengan 9 anak lainnya. Berkenalan, menyesuaikan diri dan belajar memahami karakter teman2 baru sudah semacam shock terapy buatnya. Belum lagi masalah antri kamar mandi, makanan di pondokan, merapikan almari pakaian, mengatur baju dan buku, perlu dibiasakan untuk menyelesaikan sendiri. Termasuk gaya belajar dibawah pengajaran di sekolah baru.

Masih untung kata beberapa kenalan Alif mau menurut dimasukkan pesantren. Sebagian dari anak mereka bahkan menolak ide ini sebelum mencobanya. Ya memang, semua dibarengi dengan bimbingan dan pengarahan kami sebagai orang tuanya yang memberikan gambaran dan alasan kenapa dia harus sekolah di sana.

Alif masih bolak balik mempertanyakannya lagi dan lagi kenapa dia harus bertahan di sana. Berapa lama dia harus berada di sana. Semua tentu saja diperparah dengan keadaan lingkungan dimana hampir semua anak kelas satu mempunyai masalah yang sama. Tidak betah. Bahkan sudah ada beberapa anak yang mengundurkan diri, pulang setelah liburan kemarin ini.

Ini memang tahap kehidupan yang harus dilalui bersama. Tantangan tidak hanya untuk Alif, tapi buat kami orang tuanya. Berat merasakan perpisahan dengan anak satu-satunya. Tak ada yang menghibur lagi di rumah. Tapi tujuan untuk membuatnya siap menghadapi kehidupan nanti didepannya, lebih mandiri, membuat kami berusaha kuat untuk menjalaninya.

Seperti malam ini, aku merasakan rindu yang amat sangat kepadanya. Biasanya aku berusaha melupakan, karena biasanya ikatan batin ibu dan anak akan terjadi kontak. Dia pasti merasakan hal yang sama. Aku tidak ingin membuatnya semakin lemah, disaat banyak yang harus dilakukannya di dalam pesantren.

Kadang aku merasa kasihan padanya. Kegiatan memang dibuat padat agar tidak ada waktu luang yang ujung2nya melamun dan akhirnya membuat anak tidak betah. Kegiatan setiap hari dimulai sangat awal. Pukul 4 pagi sudah dibangunkan untuk persiapan sholat tahajud dan kemudian sholat Subuh berjamaah. Lalu bersiap untuk sarapan dan sekolah. Sekolah dimulai pukul 6.30 pagi dan berakhir pukul 2.10 siang setiap harinya, kecuali Jumat kegiatan sekolah libur. Diselingi istirahat setengah jam 10 pagi dan sholat Dhuhur pada pukul 12 siang lalu makan siang.

Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan ekstra kurikuler, break untuk sholat Ashar berjamaah, kegiatan ekstra kurikuler dilanjutkan sore sampai sebelum waktunya sholat Magrib berjamaah. Makan malam dan sholat berjamaah Isya waktunya sangat singkat. Setelah itu belajar bersama ataupun melanjutkan kegiatan ekstra kurikuler. Kegiatan diakhiri pukul 10 malam. Cukup melelahkan. Apalagi buat Alif yang aku biasakan tidur siang mengingat riwayat kesehatannya yang cukup sering sakit.

Peringatan tiap waktu ditentukan dengan bunyi bel dan kentongan. Bila terlambat ada hukuman. Misalnya dipotong pitak rambutnya. Alif pernah tertidur saat harus sholat. Kakak kelas membangunkan dengan sorbannya. Dia sangat kaget saat itu, dan langsung sakit hati. Alif anak yang sensitive. Itu peringatan keras untuknya. Karena itu, 20 menit sebelum azan dia selalu berusaha sudah berada di dalam masjid.

Kadang lucu melihat reaksi anak2 sangat mendengar bel. Wajah2 mereka berubah panik, bergerak cepat, bersiap2 untuk sholat. Tapi disisi lain, aku mengkuatirkan kejiwaan mereka yang mungkin tertekan . Ahh, mungkin karena belum terbiasa saja, aku sering menghibur diri. Toh ini mengajarkan mereka untuk disiplin.

Alif mengeluhkan hal ini. Tidur tak cukup, katanya. "Baru mau mulai mimpi sudah harus bangun." :) Keluhan lain tentu saja tentang alat elektronik. Tidak ada yang dijinkan termasuk HP, radio, TV apalagi internet. "Cuma lampu, kipas angin dan setrika doang yang dibolehin.", cerita Alif ke adik iparku. Hehehe.

Alif memang mempunyai ketertarikan kepada berita. Kuperhatikan sejak kecil memang demikian. Dulu sering tiba2 dia menelponku di kantor mengabarkan kejadian heboh hari itu yang dilihatnya di TV. Pesawat jatuh, gunung meletus, gempa, peperangan adalah hal2 yang pernah dilaporkannya saat itu.

Dia merasa semua tercabik, terambil darinya. "Jadi kurang wawasan.", katanya.

Yah memang itu salah satu resiko berada di pondokan.

Metode pelajaran yang baru pun membuatnya sedikit tertekan. Dalam 5 jam pelajaran, 5 mata pelajaran pula yang harus dipelajari. Padat. Belum masalah bahasa baru yang dipelajari, bahasa Arab. Tapi mudah2an Alif memiliki talenta dibidang bahasa sehingga dia tidak terlalu sulit mempelajarinya.

Masalah sosialisasi merupakan masalah yang lebih berat untuk Alif, menurut aku dan suamiku. Dia tidak tertarik berada diantara teman2 barunya. Sulit menyesuaikan diri. Biarlah... biar dia belajar untuk berubah.

Ini pula yang membuatnya masih terus meminta kami menjenguknya setiap hari. Menemaninya karena dia tak mau dekat dengan teman2nya. :(

Tak apa ya Nak... namanya juga masih baru...

Ngobrol dengan orang tua murid yang lebih dulu masuk, proses penyesuaian diri bisa sampai 3 sampai 6 bulan. Bismillah... semoga Alif bisa melaluinya dengan baik.

Ada beberapa perubahan positif yang tampak belakangan ini. Alif mulai menghargai apa arti orang tua. Dia mengaku selalu mendoakan kami sekarang. Alhamdulillah. Saat pamit pulang, kami dilepasnya dengan ciuman panjang yang mustahil dilakukannya sebelum ini. Hehehe...

Kami yakin ini adalah saat yang tepat Alif di pesantren. Saat memasuki akil baliq. Saat belajar dewasa. Saat perilakunya masih bisa dibentuk. Insyallah.

Monday, January 14, 2013

Investasi ala Alif

Menurutku Alif adalah seorang pengamat. Dia berbakat mengamati apa yang terjadi di sekelilingnya. Dan aku bersyukur dan berbangga atas karunia ini. Bukan kah menjadi "pembaca" adalah yang diperintahkan oleh-Nya? Be frankly, pengamatanku sendiri mungkin tidak secermat Alif.

Seiring dengan pembelajaranku dengan dunia investasi, Alif tiba-tiba meminta aku untuk mengubah tabungannya ke dalam bentuk emas. Sementara, menurutku ini adalah titik kulminasi dia memahami investasi saat ini. Walaupun ujung-ujungnya tujuan dia menabung adalah untuk beli mainan. Tak apalah.

Rupa2nya dia mengamati apa yang aku lakukan sehari-hari dan "menguping" pembicaraanku dengan suami. Dia mengerti, menabung tak dapat mengalahkan inflasi. Dan dengan mengubah bentuknya menjadi emas, dia berharap ada pertambahan nilai di sana. Hehe.. aku hanya mengamini nya saja.

Sepertinya Alif memang tertarik terhadap dunia finansial. Mulai umur sekitar 3 tahun aku mengajarinya menabung. Maksudku adalah agar dia mengenali mata uang dan sekalian belajar menghitung. Setelah berapa lama, aku mengajaknya membuka tabungannya. Tentu saja kebanyakan uang nya adalah uang receh. Saat itu dia menyebut "uang" untuk uang kertas dan "duit" untuk uang receh. Hahaha...

Agak lama kami memilah, menyusun dan menghitung uang receh dan juga sedikit uang kertas. Karena nilai uang kertas lebih besar dari pada uang receh, tentu saja menghitung uang kertas lebih cepat dan pertambahan nilainya pun lebih banyak. Setelah kami selesai menghitung, sejenak Alif tampak berpikir dan kemudian berkata dengan sedikit berteriak, "Kalau gitu, ibu kasih aku uang yang seperti ini saja (menunjuk 5000-an)". Sedikit terhenyak aku berpikir, secepat itu dia mengambil kesimpulan bahwa "uang" lebih besar nilainya daripada "duit. Aha!

Sampai saat ini pun di sekolah Alif menunjukan ketertarikannya pada matematika. Di kelas 2 dia sudah diwajibkan menghafal perkalian sampai seratus. Tapi karena aku lebih percaya pada logika daripada sekedar hafalan, aku tak memaksanya menghafal. Hasilnya, dia memang agak kesulitan dengan pelajaran tersebut pada awalnya. Tapi kemudian, dia menemukan caranya sendiri bagaimana mengalikan dengan bantuan rumus sederhana yang dikreasikannya sendiri.

Di kelas V ini, logika berpikirnya menjadi lebih baik. Bahkan terkadang aku kesulitan mengikuti cara berpikirnya. Pekerjaan rumah mempunyai hasil sama dengan cara lamaku, tapi dia mengerjakan dengan cara yang berbeda.

Saat aku kembali ke rumah dari sebuah workshop tentang Technical Analyis saham. Alif mendekatiku sambil melihat layar komputer ku. Dia masih bersekolah kelas III atau IV. Saat itu aku sedang berusaha membaca pola dari grafik sebuah emiten. Melihat ketertarikannya, sekalian saja aku jelaskan materi yang berhubungan dengan itu. Seketika dia berkomentar bahwa pola yang terlihat di layar adalah pola tertentu. Ha? Tentu saja aku takjub! Aku yang sudah beberapa lama mengamati dan masih belum menemukan pola yang tepat, Alif lebih cepat melihatnya!

Dan sering kali sekarang, sepulang sekolah dia mengelilingi tempat duduk ku dan bertanya, "Untung berapa hari ini, bu?" hahahahahaaaa...

Pernah juga suatu kali dia berkeras bertanya keuntungan yang aku dapat hari itu dan juga modalnya. Tanpa mengetahui arti dari kata "persentase" dia berkomentar, "Koq kecil sekali, bu? Untuk untung cuma segitu, modal yang ibu pakai besar." Hahahaahaaaa.... Alif... Alif... kamu kritis sekali nak!

Tuesday, December 4, 2012

Alif semakin besar!

Alif sudah kelas 5 SD sekarang. Sudah besar, baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-11. Badannya tiba2 menjadi sangat besar setelah sunat saat libur sekolah kemarin. Duh, itu benar2 pengalaman yg memilukan... Tapi Alif commit dengan permintaannya sendiri, sehingga ia mampu menahan rasa sakit. Alif memang anak ibu yang hebat! :)

Pengalaman harus membeli baju berulang2 terjadi lagi bulan2 terakhir ini. Lagi2 aku hrs membeli seragam sekolahnya, dengan ukuran yg menakjubkan. Maksudnya, aku tak menyangka dia memerlukan ukuran sebesar itu sekarang. Ampun!

Alif jarang meminta sesuatu (kecuali tentu saja mainan!). Tapi kali ini dia meminta piyama. Tentu saja permintaan ini langsung aku kabulkan. I feel his wish is my command. Haha. Iyalah, lha wong anak satu2nya! Kasih sayang yang salah? Ah, biarlah.
Piyama yg diinginkannya adalah baju tidur berlengan dan kaki panjang. Alasannya dia tak suka pakai selimut malam hari, tp kedinginan karena AC. Mungkin dia bermaksud mengurangi kemungkinan ngompol! Hehe aku sering menggodanya, krn memang sih bbrp kali dia masih mengompol... :P

Di kelas 5 inilah aku perhatikan, perkembangan sosial nya berkembang agak pesat. Dia mulai bercerita banyak tentang teman2nya sekelas. Nama2 yg disebut tidak lagi 1-2, tapi lebih dari itu. Tentu saja aku merasa agak lega dan senang.

Saat dia lebih kecil, Alif dikenal lebih introvert. Seperti tidak mau berteman, ia lebih senang menarik diri, menyendiri. Sifatnya pun kurang menyenangkan, pemarah dan tidak sabaran. Teman2 jadi banyak yg tak suka dengannya. Beberapa kali aku menanyakan bagaiman Alif di sekolah, dan yg seperti inilah yg diceritakan teman2nya. Hanya 1-2 nama teman yg sering diceritakan sepulang sekolah. Dan dia mempunyai argumen untuk sikapnya yg menarik diri itu: menghindari pertengkaran.

Sebagai anak tunggal aku perhatikan dia memang menjadi agak manja. Semua keinginannya hrs terpenuhi di rumah. Tentu saja ini tidak selalu didapatinya dlm pergaulan di sekolah.

Sempat aku merasa kuatir dg perkembangan sosialnya. Tapi alhamdulillah tahun ini tampaknya terjadi perkembangan pesat ke arah yg lebih baik.

Saat2 perjalanan pulang dari sekolah dan saat Alif tdk merasa lelah, dia pasti berceloteh apa yg terjadi hari itu. Dan aku sangat menikmati momen2 seperti ini. Salah satu ceritanya yg menurutku lucu adalah demo kecil yg dilakukan 2 kelompok teman2nya. Masing2 3 orang. Mereka menuliskan tuntutan mereka di selembar kertas dg spidol. Kemudian mereka berdiri di lorong kelas berkelompok memegang kertas itu sambil berteriak2.
Hari itu kelompok yang satu menuntut pembebasan Palestina. Mereka bermaksud mengumpulkan dana untuk menolong saudara2 muslim di sana. Tampaknya mereka terpengaruh issue hangat soal perang yg sdg terjadi di sana. Dimana anak2 Palestina, wanita dan para orang tua banyak yang tewas terkena serangan bom yg membabi buta oleh Israel.
Kelompok yg lain, jelas2 berdemo untuk meminta uang tambahan jajan mereka. Mereka bilang uang jajan yg diberikan orang tua mereka sangat sedikit, sehingga mereka masih lapar! Ah, ada-ada saja.
Alif bilang, dia lebih cenderung kepada kelompok kedua karena mereka jujur mengumpulkan uang untuk jajan. Sedangkan kelompok yg satu pada awalnya tampak bertujuan lebih mulia krn ingin membantu orang lain, tetapi ujung2nya uang yg terkumpul dipakai buat jajan juga. Nah!!

Cerita Alif yg lain segera menyadarkan aku kalau anak2 seumurnya mulai puber. Mereka tampaknya sdh mulai mengenal cinta. Mulai menyenangi teman2 lawan jenisnya. Hari itu Alif bercerita bahwa temannya yg bernama Deihan sedang menjadi bulan2an. Deihan ingin memutuskan hubungan dengan J-O yg diakui sbg pacarnya, tapi J-O tdk setuju. Deihan tak dpt berbuat apa2 karena itu. Lho, aneh?! :D
J-O adalah sebutan nama dari teman wanita Alif di sekolah. Katanya sih cantik. Dan semua anak laki suka kepadanya. Ooo... Jadi J-O kembang sekolah toh.

Aku bertanya, "Alif suka juga gak sama J-O?". Dan dia menjawab,"Ya, sukalah". Haha! "Tapi, aku gak mau ngomong2 kalo aku suka cewek spt teman2ku". Syukurlah, Alif juga berkembang normal spt teman2nya, walaupun dia punya sikap yg mungkin berbeda dg teman2nya. Tak apa, nak. Kehidupan adalah proses.

Tetap tumbuh sehat ya Alif anak ibu yang pintar. Semoga Allah selalu menjagamu. Amin...

Peluk cium, ibu dan ayah :*

Friday, July 8, 2011

"Penyakit" Kepribadian

New story about Alif :)

Dalam perjalanan pulang kemarin, hampir tengah malam, kami membahas pertunjukkan Musikal Laskar Pelangi yang baru saja kami tonton. Amazing performance. Sudah seharusnya Indonesia bangga mempunyai orang2 hebat yang sanggup menyajikan sebuah tontonan hebat seperti itu. Dari pemain, musik, set panggung, semua detail dan mengagumkan. Tak henti-hentinya para penonton bertepuk tangan memberikan applause sepanjang pertunjukan itu.

Pemain anak2 memiliki suara yang dahsyat! Bening... seperti mendengarkan dari kaset saja! Diskusi kami sampai kepada penjelasan pada Alif bahwa bakat memang dapat terlihat sejak kecil. "Bakatku apa ya, bu, yah?", Alif bertanya-tanya. Dengan bercanda aku menjawab,"Marah-marah!". Dan benar, dia jadi marah mendengarnya. Hahaha!! Anak satu-satunya, jadi manja.

Tak berapa lama, setelah mengingat-ingat sejenak, dia menerka penyebab mengapa dia suka marah-marah. "Aku pernah baca, sepertinya aku terkena penyakit Kepribadian, bu!" Hah? "Penyakit apa itu, Lif?", tanyaku minta penjelasan. "Iya, kalau bangun pagi kan segar, jadi perasaanku senang. Siang sedikit aku mulai bosan jadi mulai marah-marah, sedangkan sore hari aku diam-diam saja." "Coba diperiksa dulu matanya." "Bukan mata yang diperiksa tapi otaklah... otak yang menyebabkan penyakit ini. Tidak bisa dilihat dari luar!"

Alif... Alif... yang kutahu sepertinya dia tertarik terhadap ilmu pengetahuan. Semua hal mengenai alam, tubuh manusia, planet, ruang angkasa, robot, semua menarik perhatiannya.

Ibu dan ayah cuma bisa membimbing dan mendoakan mu, Nak... Semoga kelak kau menjadi anak yang berguna bagi orang-orang di sekitarmu. Amin...

Saturday, September 25, 2010

Kejutan Kecil dari Alif

Tahun ini Alif sukses menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Alhamdulillah. Tak pernah absen sekalipun bangun dini hari untuk sahur.

Pernah sehari aku tak tega membangunkannya untuk sahur. Tapi kemudian dia terbangun sendiri di akhir waktu dan menyadari waktu sahur akan segera habis. Dan... menyadari itu dia marah besar tidak dibangunkan! Uh, aku menyesal dan tak pernah mengulanginya lagi.

Tapi, ah, motivasi besarnya itu sepertinya juga karena kami, aku dan ayahnya, menjanjikan sejumlah uang bila ia bisa menjalankan ibadah puasa. Karena sepertinya... dia sangat menginginkan sesuatu (baca: mainan). :-) Tak apalah. Bukan kah banyak cara mengajarkan anak untuk berpuasa??

Sebetulnya dia sudah bisa puasa sehari penuh, tapi aku - lagi2 - tak tega memaksanya... Setelah beberapa hari puasa dengan bangga dia lapor kepadaku, "Bu, berat badanku turun 5 kilo gram." Wak! Aku terkejut mengetahui perkembangan itu. "Iya kan bu? Kemarin berat badanku 35 kg, sekarang 30 kg." lanjutnya mengkonfirmasikan apa yang dipikirkannya. Dia pikir penurunan berat badan adalah sebuah prestasi mendengar ayahnya berhasil menurunkan berat badannya karena puasa. Aha!

Segera aku "menegosiasikan" puasa dengannya. Aku memintanya makan siang dan kemudian boleh melanjutkan lagi sampai sore. Duh, aku benar2 tidak tega mengikuti perkembangan berat badannya. Apa yang terjadi nanti bila puasa berakhir??

Tak apa ya, Nak. Alif kan masih dalam tahap belajar berpuasa...

Dan di akhir puasa yang baru lalu, tepatnya di malam lebaran, Alif memberikan kartu kecil buatannya sendiri sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Ayah dan Ibu . So sweet... Terimakasih anakku sayang... Ayah dan Ibu senang sekali dan bangga padamu.... :-)

TAQABALLAU MINNA WA MINKUM
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

SELAMAT IDUL FITRI 11431 H

Sunday, July 11, 2010

Jangan Melingkari Janji

.
Alif bilang, "Jangan melingkari janji!!".

Hehehe... huruf "L" pada kata "melingkari" is on purpose. Alif didn't know the word suppose to be without "L".

Kata Alif lagi, Satpam itu kalo malam seragamnya berwarna gelap sedangkan pagi hari putih. Perlengkapannya juga beda, yang siang cuma pisau, ... (lupa), dan pentulan. Pentungan maksudnya. :-)

Wednesday, July 7, 2010

3 Prinsip Robot

* versi Alif

Pertama-tama untuk dicatat, kata PRINSIP hanya berlaku untuk yang berhubungan dengan TEKNOLOGI.

Lalu untuk membuat robot ada 3 prinsip yang harus dipatuhi, yaitu:
Pertama: Robot tidak boleh membahayakan manusia
Kedua : Robot harus patuh pada perintah manusia
Ketiga : Robot harus melindungi dirinya sendiri

Contoh untuk prinsip pertama misalnya Robot tidak boleh nyemplungin manusia ke dalam air.
Contoh prinsip kedua bila Robot disuruh beli mie, maka Robot langsung pergi beli mie. Kalau perlu digorengin sekalian...
Ketiga kalau dilempari batu Robot harus bisa melindungi diri, contohnya dengan menggunakan payung, sampai berbunyi "klotek-klotek".

Sumber (kata Alif lagi): Discovery Channel (yaa... dari mana lagi kalo gak dari Discovery Channel??, sambung Alif)

Hahahaha... Alif... Alif...

Saturday, May 1, 2010

Masjid Impian Alif

Malam ini dalam perjalanan pulang dari jalan-jalan di akhir minggu ada celoteh Alif yang ingin aku catat.

Melintasi masjid yang terhitung baru dibangun disebuah peristirahatan jalan tol Bintaro-BSD, tiba2 Alif berkomentar, "Bu, nanti kalau Alif sudah kaya, Alif akan bangun masjid yang rumit yang bakal susah ditiru!". Dan berdasarkan tanya jawab sesudahnya tergambarlah masjid seperti apa itu nantinya.

Masjid itu akan berlantai emas. Lantai bagian pinggir ada tulisan doa yang akan dipagari dengan kolam ikan. Ide pagar ini muncul setelah aku berkomentar bahwa tulisan doa sebaiknya tidak terinjak2, sedangkan ikan adalah salah satu hewan yang dia sukai saat ini. Lalu di atap bakal ada air mancur. Air muncul dari bahan kayu dan batu. Yang terakhir ini agak aneh, bukan? Tapi ini adalah salah satu kriteria "rumit" untuk Alif. Lalu lambang bintang dan bulan terbuat dari daun. Ini juga membuat aku bertanya, "Bagaimana kalau layu, Lif?". Sedikit bingung Alif menjawabnya, "Hm... iya ya bu...". Dan yang terakhir adalah miniatur Ka'bah yang dilindungi kaca agar tidak berdebu diletakan dibagian depan tepatnya di belakang mimbar.

Aku bertanya, "Apa sih motivasi Alif membangun Masjid serumit itu, Nak?". "Karena Cinta Allah!", jawabnya yakin dan tegas. "Maksudnya?" tanyaku minta penjelasan lebih lanjut kepadanya. "Allah itu kan cinta keindahan, hal yang bagus dan bersih. Jadi masjid bagus dan rumit itu bentuk cinta kepada Allah, bu.". Subhanallah, anakku Alif sudah mempunyai pemikiran sejauh itu diumurnya yang 8 tahun ini.

Semoga impian luhurmu dimudahkan jalannya oleh Allah ya Nak... Amin.

Friday, April 30, 2010

Is it really true, Alif?

When we were doing my son’s home work one night, there was a question, “Responsibility of a Mother is….” And I said, “Taking care of her son”. But soon Alif replied, ”But you are working and I am in school”, he meant our activities during the day…in which I don't stay around him... he is wondering how can I taking care of him??

Oooohhh… my son thinks I am not taking care of him… huhuhuhu…. :’(

------------------------------------------------------------------------------------
Cerita yang lain…

Setelah memeriksa hasil ujian tengah semester nya untuk pelajaran bahasa Indonesia, adikku Melati berkomentar, “Mbak, Alif tidak mengisi 1 jawaban. Blank…”. Ternyata perintahnya adalah “Ceritakan pengalaman yang menyenangkan bagimu!”.

Aku terhenyak dengan kenyataan itu. Saat aku tanyakan mengapa dia tak menjawab, Alif mengatakan tak ada pengalaman menyenangkan yang dapat diceritakannya! Duh, betapa sedih hatiku… begitu sulitkah baginya untuk menemukan pengalaman menyenangkan untuknya akhir2 ini? Ternyata pula dia meng-asosiasi-kan pertanyaan dengan pengalaman berpergian keluar kota sebagai salah satu pengalaman menyenangkan. Satu hal memang sangat amat sulit kami lakukan. Banyak alasan yang membuat banyak rencanaku batal karena berbagai aktifitas dan alasan suamiku… hiks!

Hhhh… sebagai anak tunggal, satu2 nya, yang semua perhatian dan kebutuhan berusaha kami penuhi, ternyata tak ada pengalaman yang benar2 istmewa untuknya….

Aku menyindir dengan mengatakan, “Oh, ternyata dibelikan mainan bukan pengalaman menyenangkan buat Alif. Bagaimana bila Alif tidak udah dibelikan mainan lagi??” L

Kejadian ini benar2 mengharuskan aku dan suamiku untuk intropeksi diri. Aku mengingatkan suamiku bahwa pengalaman masa kecil kami tidak harus bisa berlaku untuk masa kecil Alif, dimana banyak hal berubah saat ini.

Monday, February 22, 2010

Alif bisa Naik Sepeda!

Horeeee... Akhirnya Alif bisa naik sepeda.

Very much amazing... aku dan ayahnya dibuat tercengang tiba2 Alif bisa naik sepeda... diumurnya yang 8 tahun ini!

Hampir saja aku dan suamiku kehabisan akal memotivasi Alif agar mau berlatih naik sepeda lebih rajin. Tapi dia kurang tertarik. Tampaknya game dan PS lebih menarik baginya. Padahal, sependapat dengan ayahnya, seorang anak harus bisa life skill yang satu ini. Kami tak mau dia tergantung dengan orang lain nanti setelah dia dewasa seperti contoh yang ada di sekitar kami.

Sehubungan dengan keinginan mainan remote control Helicopter yang amat sangat, akhirnya terpikir untuk menjadikan ini hadiah bila ia bisa naik sepeda.
Harganya lebih mahal dari rata2 harga mainan yang sering kami belikan untuknya. Tentu tidak begitu saja kami membelikannya.

Dan ternyata, iming-iming ini sangat ampuh. Terbukti Alif bisa naik sepeda dalam waktu kurang dari seminggu. Alhamdulillah.

Hmm... tapi seperti yang bisa diduga. Mainan yang sangat amat diinginkan itu hanya dimainkan dalam waktu beberapa hari. Setelah dia menaklukan tantangan, dia segera bosan dan melupakannya.

Hhhh... Alif... semoga kamu tidak tumbuh menjadi anak manja... :(

Monday, February 1, 2010

Alif Mau Sunat!

Sudah beberapa waktu terakhir ini sunat menjadi topik yang sering dibicarakan Alif. Menyusul berita dari beberapa saudara sepupu dan teman-teman laki-laki nya yang sudah sunat. Perencanaan waktu sudah ditentukan, liburan naik kelas 3 nanti. Ayahnya juga sudah men'sosialisasi'kan sunat itu apa dan bagaimana, juga mengapa harus dilakukan.

Tapi aneh, dalam beberapa kali kesempatan tampaknya dia sangat 'eager' untuk segera disunat. Eh, ternyata eh ternyata, root cause nya akhirnya kutemukan. Klasik. Dia ingin dibelikan mainan Helicopter dengan remote control yang bisa benar2 terbang, motif tentara kesukaannya. Hadiah yang kujanjikan bila nanti dia berani disunat.

Aduh Alif... demi helicopter kau rela "berkorban" sebegitu besarnya??? Sabar ya, nak... ;)

Friday, January 22, 2010

TIDAK TAHU

Cerita lain dari Alif yang perlu aku catat!

Alif sudah kelas 2 SD sekarang. Tapi pelajaran sekolahnya... aduh... minta ampun rasanya aku mengikutinya. Matematika nya diajarkan berbagai macam jalan atau cara untuk menghasilkan 1 angka... Hhh... betul, ribet amat!

PR PKN-nya 2 malam yang lalu kami kerjakan bersama. Topiknya tentang Musyawarah dalam keluarga. Seperti biasa aku biarkan Alif mengerjakannya sendiri dan kemudian aku periksa. Salah satu pertanyaan nya adalah "Apa yang kamu lakukan bila pendapatmu tidak diterima di dalam musyawarah?". Jawaban yang ditulisnya dengan teramat yakin (bila tidak yakin dia pasti bertanya padaku) adalah "TIDAK TAHU"!!! Hahahaha.... Jujur amat jawabannya, Nak!

:D

Monday, November 9, 2009

Robot vs Hantu

-
Mendengar celotehan Alif dengan ayahnya malam kemarin membuatku tertawa geli kembali. Topik pembicaraan tidak jauh dari Robot, mainan kesukaannya saat ini. Salah satu pertanyaannya adalah seperti ini: ”Ayah, kalau MANUSIA KETEMU HANTU kan KABUR… terus kalau ROBOT KETEMU HANTU gimana, Yah?”. "Manusia kabur kalau ketemu hantu", kesimpulannya ini buatku cukup lucu.

Ayahnya menjelaskan bahwa robot tidak punya jiwa, perasaan dan dilanjutkan oleh Alif , “Juga tidak punya jantung, hati dan juga otak. Robot itu bisanya cuma bisa diperintah saja”. “Iya, jadi Robot kalau lihat hantu ya diam saja… (tidak kabur!)”, lanjut ayahnya.

Dan seperti biasa pula, bila penjelasannya masuk akal baginya, Alif tidak akan terus mendesak untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut. Tampaknya dia cukup puas dan melanjutkan pembicaraan kembali tentang hal yang lain...

Semoga saja ayahnya sabar meladeni anak satu-satunya ini... Yang sabar ya, Yah...:)

-

U F O

-
Yang ini sudah terjadi beberapa minggu yang lalu. Merujuk kepada berita terakhir yang menarik perhatiannya, Alif menceritakan kembali apa yang dilihatnya di TV kepada ayahnya, dan yang pasti, dibumbui dengan segala imajinasinya. Seperti biasa, ceritanya akan sangat panjang, bersambung-sambung, lamaaa sekali. Dan malam itu, ayahnya lagi-lagi “terjebak” dengan celotehannya... :)

Karena lokasi bercerita di dalam kamar dan mendengarkan sambil terkantuk-kantuk, ayahnya pun jatuh tertidur dan tiba-tiba dalam keadaan tidak sadar memberi komentar, ”Tenang, Lif…nanti kita tangkap satu, ya…”. Mendengar itu, Alif yang sedang asyik bercerita tersentak dan menjawab, ”Apa, Yah?? KITA TANGKAP SATU??”. Tampaknya tak masuk akal baginya, bagaimana cara menangkap satu buah UFO? Tentu saja ini adalah suatu hal yang baru untuknya.

Sejurus dengan teriakan Alif, ayahnya terbangun setengah kebingungan, dan Alif pun tersadar dan masih dengan setengah berteriak bertanya, ”Ayah nge-lindur, ya??” setelah menyadari apa yang dia bicarakan tidak “nyambung” dengan komentar ayahnya.

Hahaha… tersibaklah rahasia ayahnya, dimana setiap kali ia mendengar suara anaknya itu somehow akan membuatnya merasa sangat nyaman dan rileks sehingga akhirnya selalu saja mengantuk. Sejak itu Alif selalu membaca situasi dahulu sebelum bercerita, dia tidak mau lagi “tertipu”, bahkan sekarang membaca pun di dalam hati… untuk menghindari ayahnya mengantuk lagi. Ia masih ingin ditemani ayahnya dalam keadaan terjaga bukan tertidur...

-

Tuesday, September 8, 2009

1st Interview for Alif

*
Lagaknya seperti biasa... bila ke kantor ibunya dan bertemu banyak kolega kerjaku pasti Alif berulah. Aku pikir dia berulah demi meminta perhatian lebih. Biasa... anak manja... secara anak cuma satu gitu loh.

Hari itu, Jumat 28 Agustus 2009, pukul 02:00 siang adalah jadual wawancara pertama Alif untuk beasiswa sekolah yang diselenggarakan oleh kantorku. "Waduh, hebat ya... kecil2 sudah diwawancara.", itu komentar dari beberapa kolega kerjaku yang kami temui dalam perjalanan menuju ke dalam ruangan wawancara di lantai 7.

Lalu, mulailah kegelisahan Alif. Dia mulai 'ngadat' tidak mau menulis namanya di daftar hadir yang disediakan oleh panitia penyelenggara, HRD. Jujur, hampir tak sabar aku melihatnya. Lalu kami duduk bersama dengan anak2 lain menunggu wawancara dimulai. Lalu... tiba2 Alif mulai menangis! Lha, aku sempat bingung kenapa. Tapi lalu aku mengerti bahwa ternyata Alif sangat gugup menghadapi pengalaman pertamanya ini. Apalagi setelah kami melihat setting ruang wawancara yang terlihat sangat formil.

Rupanya pula... tangannya sangat DINGIN.

Uh, ini juga pengalaman pertamaku, menemani Alif yang begitu gugup sampai-sampai tangannya dingin. Aku terus berusaha membesarkan hatinya. Tangisnya semakin kencang saat namanya dipanggil sampai aku perlu meminta agar Alif diperbolehkan mengikuti giliran berikutnya saja.

"Ibu bantu doa dari sini ya, Nak" itu yang aku ucapkan untuk menenangkan hatinya. Alhamdulillah, kemudian Alif lebih tenang saat melangkah masuk ruang wawancara. Semoga pengalaman ini dapat membantunya lebih percaya diri.

Alif menyelesaikan sesi wawancaranya dengan baik, walaupun volume suaranya sangat kecil saat menjawab pertanyaan. Tapi tak apalah, karena teman2nya yang lain juga bersuara sama :).
Yang tak kusangka adalah saat dia menyampaikan cita2nya menjadi Ilmuwan! Lagi2 dia terpengaruh oleh temannya saat itu. Haduh, padahal tak pernah sekalipun aku mendengar cita2nya yang satu itu!
Lalu ingin tahu apa yang dijawabnya waktu ditanya siapa nama Eyangnya? "'Yang Kung dan 'Yang Ti" !!!

Alif mengikuti sesi wawancara ini setelah lolos tahap administrasi. Alhamdulillah, ketekunan Alif di sekolah membuahkan hasil. Alif berhasil mendapatkan beasiswa itu. Scholarship from Nestle Indonesia!!

Selamat ya Alif, anakku sayang... Alif memang anak pintar. Terimakasih sudah membuat ibu bangga! :)
***

Friday, July 31, 2009

Konyol

-
Alif sudah kelas 2 SD sekarang. Dan hari ini dia akan ulangan Al Quran, salah satu pelajaran di sekolahnya.

Ada PR latihan yang harus diselesaikan. 10 soal. Tapi sayangnya buku paket pelajarannya tidak ada di rumah. Mungkin karena "ditahan" gurunya, karena biasanya bila ada latihan di sekolah dengan menggunakan buku pelajaran maka guru akan menilai dibuku tersebut satu per satu. Atau mungkin karena "tertinggal" di sekolah. TIDAK TAHU. Tapi hal ini cukup menyebalkan aku sebagai orang tua yang perlu membimbing pengerjaan PR di rumah karena tidak ada reference mudah untuk jawaban. Jadilah pagi ini - sebelum subuh - menyambung 'pencarian' jawaban semalam di internet. Thanks to Google that had help me so much!

Bapak dan ibu guru, tolong dong... kembalikan buku paket pelajaran Alif...

Duh, kenapa bisa begini sih?! :(
-

Thursday, January 29, 2009

Anakku Sakit

*
Ini minggu ke-dua Alif sakit. Awal minggu lalu saat tidur malam hari dia panas. Menurut dokter amandel dan adenoid-nya membesar dan harus diangkat. Hhhh! Betapa terkejutnya aku mendengar advise dokter. Sepanjang minggu itu aku dan suami mencari bermacam pendapat mengenai penyakit anakku. Betapa membingungkan... karena sebagian dokter menyatakan perlu dan sebagian yang lain menyarankan penundaan bahkan tdak perlu dioperasi. Sebagai orang awam kami pun menjadi bingung dan panik. Tapi sejurus kemudian dengan berjalannya waktu akhirnya kami memutuskan untuk menundanya...

Tapi apa yang terjadi tengah minggu ini saat anakku panas lagi dan aku memutuskan untuk ambil cuti hari ini, kebimbangan melandaku lagi. Jadi, apakah aku perlu membawa ke dokter THT lagi yang pasti menyarankan operasi segera... atau tetap menunda?

Ya Allah, bantulah kami dan angkatlah penyakit dari tubuh anak kami.

Amien...
*

Monday, January 5, 2009

Alif's first semester report

*
"Ibu mau tahu Alif ranking berapa?" dengan suara bersemangat dia meneleponku saat makan siang hari ini. "Wah, ranking berapa ya...?" jawabku balik bertanya dengan berbagai harapan di kepalaku. Berharap nilainya menjadi lebih baik dan rankingnya juga meningkat mengingat raport bayangan pertengahan semester pertama ini dia "hanya" berada diperingkat 18 di kelasnya. Cukup jauh dari peringkat satu, tapi tak apalah toh aku juga tidak memaksanya untuk menjadi yang terbaik di kelas. Cukup bagiku dia mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Sekali lagi, bagiku EQ lebih penting bagiku untuk anakku...
"Rata-ratanya 9,4 bu... tapi rankingnya 21!" jawabnya. Wah, aku tak menyangka peringkatnya malah menurun. "Alif sudah berusaha, bu... tapi dapatnya cuma ranking segitu". Dan berikutnya seperti biasa dia berusaha menegosiasikan "hadiah" yang diinginkannya karena tidak berhasil mencapai "targeted" ranking yang telah ditetapkan.

Anakku..., tak apa dengan rankingmu yang penting bagi ibu nilai-mu sudah cukup baik. Alif masih kelas 1 SD masih banyak waktu untuk belajar...

Cup sayang dari ibu, nak...
***

Liburan akhir tahun 2008!

*
Libur panjang dimulai. Diawali tanggal 25 Desember sebagai hari libur pertama. Aku dan Alif menjelajah Grand Indonesia. Mall yang terbilang baru di Jakarta. Lama aku tidak pergi ke mall-mall yang berada di Jakarta. Alasan malas adalah yang paling utama. Baik juga melihat2 tempat baru sekali-sekali untuk menambah wawasan. Tapi cukuplah sekali-sekali, tidak terlalu banyak hal yang menarik lagi kalau sudah pernah tahu.

Libur tahap 2 akhir tahun diminggu berikutnya. Akhirnya kami berkesempatan berlibur yang murni hanya sekeluarga kecil kami dengan alasan benar2 berlibur! Tidak dengan keluarga besar-ku ataupun suamiku dan tidak juga dengan alasan kantor!

Sebuah keputusan tiba2, setelah membaca surat kabar pagi itu dan setelah maju-mundur cukup lama, kami berangkat pukul 3.30 sore menuju Sukabumi. Mengingat jalanan agak macet diputuskan untuk menginap di Lido, tujuan wisata terdekat yang memungkinkan. Yah... lumayanlah... Alif bisa melihat hal2 baru seperti terbang layang dan area perkemahan disekitar hotel tempat kami menginap.

Malam tahun baru, seperti tahun-tahun sebelumnya aku dan keluarga menginap dirumah orang tuaku. Tak kusangka langit Pamulang penuh dengan Kembang Api dari segala penjuru. Lumayan... walau tidak berpergian kemana-mana keinginanku melihat banyak Kembang Api terpenuhi. :-)

*

Tuesday, December 16, 2008

2 Bintang

*
Kemarin di sekolah Alif mendapat 2 cap bintang di tangannya sebagai tanda keberhasilan hafalan 2 surat pendek Al Qur'an. Alhamdulillah... Selamat ya, nak!