Monday, August 10, 2009

Mukena-ku Hilang Separuh!

-
Aneh... bukankah mukena belakangan ini (mengikuti trend yang ada) memang selalu berpasangan2 - bagian atas (rukuh/kerudung panjang) dan bagian bawah (serupa/pengganti sarung)? Tetapi mengapa setelah melalui proses pembersihan seperti biasa alias dicuci dan setrika oleh "asisten" baru-ku itu cuma kembali sebahagian? Alias cuma bagian atas saja! Kemana yang bagian bawah-nya ya??

Padahal mukena yang satu ini punya nilai historis tersendiri karena ia datang dari sasrahan di upacara perkawinanku dulu. Aduh... :(

Aneh!
Pertanda apa ya ini? *hiks*

-

Sunday, August 9, 2009

Trying to be Happy

*
Because I do have reasons to be happy...
Because Happy can be every where and at any time...
*

Friday, July 31, 2009

Konyol

-
Alif sudah kelas 2 SD sekarang. Dan hari ini dia akan ulangan Al Quran, salah satu pelajaran di sekolahnya.

Ada PR latihan yang harus diselesaikan. 10 soal. Tapi sayangnya buku paket pelajarannya tidak ada di rumah. Mungkin karena "ditahan" gurunya, karena biasanya bila ada latihan di sekolah dengan menggunakan buku pelajaran maka guru akan menilai dibuku tersebut satu per satu. Atau mungkin karena "tertinggal" di sekolah. TIDAK TAHU. Tapi hal ini cukup menyebalkan aku sebagai orang tua yang perlu membimbing pengerjaan PR di rumah karena tidak ada reference mudah untuk jawaban. Jadilah pagi ini - sebelum subuh - menyambung 'pencarian' jawaban semalam di internet. Thanks to Google that had help me so much!

Bapak dan ibu guru, tolong dong... kembalikan buku paket pelajaran Alif...

Duh, kenapa bisa begini sih?! :(
-

Wednesday, July 22, 2009

Rembulan Tenggelam di Wajahmu

*
Baru saja aku menyelesaikan novel ini. Sebuah karangan dari Tere-Liye. Menurutku isinya sangat menarik. Bagus. Dan aku suka gaya bahasanya.

Isinya terselip pembelajaraan tentang sedikit ajaran Islam aku pikir. Tapi ini adalah yang bersifat universal.

Cerita kehidupan seorang lelaki terlahir yatim piatu yang memulai hidupnya di sebuah panti asuhan. yang mengalami penyiksaan fisik yang sangat membekas. Yang harus tumbuh tanpa rasa kasih sayang dan merasakan kekosongan jiwa. .... (to be continued)

Sepanjang membaca buku ini, aku pikir pengarangnya adalah seorang perempuan. Tapi ternyata laki-laki. Baru tahu setelah baca halaman akhir novel itu. :)

Ada beberapa buku lain yang sudah ditulisnya. Aku harus baca!

Tuesday, July 14, 2009

Lugu

*
Aku harus mencatat kejadian ini...

Setelah beberapa lama ditinggal "asisten" rumah tangga beberapa waktu lalu, akhirnya seorang pengganti datang akhir minggu lalu.

Seorang "anak" yang sangat lugu dari kampung.

Baru saja aku menelpon dia dari kantor dan memintanya menggoreng ikan yang kemaren aku beli. Lalu terjadi dialog seperti ini, "Ikan yang mana, bu? Kan ada 2 macam: ikan air", disini aku mulai bertanya2... aku pikir maksudnya adalah ikan air tawar atau ikan laut. Tapi sungguh, aku tidak ingat ada ikan air tawar tersimpan di dalam lemari es. Kemudian dia melanjutkan," Dan ikan ayam". Hah! Apa pula ini? Ternyata istilah yang dia gunakan berbeda dengan yang biasa aku gunakan... Beda budaya barangkali :D

Saat dia datang, terjadi wawancara seperti biasa, kami bertanya dari mana asalnya dan bagaimana keadaan keluarganya. Dan untuk sesuatu hal yang bersifat darurat mungkin saja kami perlu menghubunginya melalui hand-phone. Bukan hal yang aneh kami pikir, hampir semua orang sekarang ini memiliki alat komunikasi ini. Lalu disebutlah urutan nomor yang segera dicatat oleh suamiku di hand-phone nya. Untuk meyakinkan nomor yang dicatat benar maka suamiku bermaksud men-test nomor tersebut dan memintanya mengambil hand-phone nya. Seperti kebingungan dia menuju kamarnya dan kembali terburu2, heran tak ada hand-phone ditangannya. "Lho, mana hand-phone mu?". Lalu disampaikannyalah sebagai berikut, "Pak, hand-phone nya ada di kampung. Di ibu saya...". Walah...walah... salah pengertian pertama pun terjadi.

Tuesday, April 21, 2009

Hidup adalah Sebuah Proses Belajar

Setiap dari kita tumbuh dewasa di dalam lingungan yang berbeda, keluarga yang berbeda, pendidikan yang berbeda, baik itu pendidikan di dalam keluarga maupun pendidikan formal sekolah. Kita tumbuh dan terus belajar dengan cara berinteraksi dengan sekeliling kita. Berinteraksi dengan panca indera kita. Dengan apa yang kita dengar, kita lihat, kita raba, kita rasa, kita pegang, bahkan yang kita baui. Dan pada akhirnya cara kita bereaksilah yang nantinya menunjukkan apakah kita cukup dewasa atau tidak...

Kadang tanpa kita sadari... setiap detik yang kita lalui akan selalu menjadi pengalaman baru dalam hidup kita. Dan waktu itu tak akan pernah kembali lagi. Karena itu tidakkah seharusnya kita tidak menyia-nyiakan waktu kita? Berkegiatanlah sebaik-baiknya tetapi tetap beristirahatlah dengan cukup.

Pengalaman hidup yang berbeda inilah yang membuat kita berbeda satu sama lain. Seberapa optimis-nya kita terhadap hidup juga terbentuk dari pengalaman2 hidup itu.

Kritis, terus mengasah rasa keingin tahuan, tidak gampang berputus asa, dapat membuat kita menjadi pribadi yang lebih unggul dari yang lain.

Tapi terkadang pengalaman yang tidak mengenakkan adalah pengalaman yang sepertinya mau tak mau terus melekat dipikiran kita. Padahal sama dengan pengalaman menyenangkan, pengalaman yang tidak mengenakkan ini memang harus kita lalui.

Life is about a Learning Process

Kita harus mau tak mau berdamai dengan pengalaman menyakitkan yang tidak mengenakkan itu... Belajar menerima bahwa itu adalah memang pengalaman hidup kita.
Memang mungkin proses ini membutuhkan proses yang sangat amat panjang, membutuhkan waktu sangat lama, yang bahkan puluhan tahun bukanlah waktu yang kadang2 tidak mungkin. But life must go on... Tak mengapa kita meletakkan pengalaman tak mengenakkan itu berjalan bersisian dengan pengalaman-pengalaman baru kita untuk sementara yang mungkin juga tidak mengenakkan, dengan tingkat yang berbeda. Tapi sungguh, bila kita sudah melaluinya pasti akan merasakan "manis" dari setiap pengalaman hidup kita... Semoga.

Kita harus melalui semua pengalaman hidup kita. Mau tak mau. Jangan pernah bertindak sebagai pengecut untuk menghindarinya.

Dalam perjalanan hidup, kita selalu berhadapan dengan sesuatu yang baru atau sesuatu yang kita pikir baru. Proses pengevaluasian menjadi penting agar kita tidak terjebak pada kesalahan yang sama. Tapi memang benar, terkadang apa-apa yang kita ketahui tidak sejalan dengan apa-apa yang kita lakukan. Contoh? Merokok berbahaya bagi kesehatan. Tapi masih banyak diantara kita tetap merokok dengan berbagai alasan pembenarannya.

Karena itu pengalaman rohani kita menjadi penting. Akal jauh lebih tinggi kedudukannya daripada keberadaan fisik. Karena semua yang kita lakukan tentu adalah perintah dari akal, bukan?

Lalu, kata-kata kunci apa rupanya yang paling ampuh membuat kita hidup lebih baik??

Saya lebih senang menggunakan istilah pengalaman hidup dibanding persoalan hidup. Karena mau tak mau persoalan hidup harus juga kita lalui. Kita hadapi dan bukan kita hindari. Penggunaan kata ini sepertinya lebih positif sebagai input akal atau otak kita.

Waktu kita kecil, we always being told. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Harus begini harus begitu. Harus segini tidak segitu :)

Tapi dengan bertambahnya umur kemampuan kita berkembang. Kita sudah mulai tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Dan pada akhirnya kita sudah bisa menentukan ini yang boleh dan ini yang tidak. Walau mungkin disana ada grey area yang kita biarkan tetap abu-abu atau kita putuskan hitam sekalian.

Hidup adalah pilihan. Tapi jangan lupa bahwa resiko terhadap semua pilihan kita itu ada. Bijaksana dalam memilih pilihan hidup, mungkin itu kata kuncinya. Bijaksana. Ya... mungkin itu.

Semoga kita semua diberikan kemudahan untuk menjalani hidup ini dan selalu dalam lindungan dan hidayah -Nya. Amien... ya robbal alamien...